Tampilkan postingan dengan label SERAMBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERAMBI. Tampilkan semua postingan

Komplotan Bersenpi Rampok Tauke Karet

Diposting oleh foraceh Kamis, 13 Januari 2011


LHOKSUKON - Perampokan bersenjata api (senpi) kembali terjadi di Aceh Utara. Sebelumnya, hal serupa terjadi di Aceh Tamiang dan Pidie. Kali ini, lima pelaku--satu di antaranya bersenpi laras panjang-- merampok dua tauke karet, Marzuki (30) dan Murdani (28), warga Desa Madi, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Kamis (13/1) pukul 13.30 WIB.

Perampokan di perbatasan Desa Leubok Klit, Kecamatan Geureudong Pase dengan Desa Bukit Makarti, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara itu dengan cepat tersiar ke seantero Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Lebih-lebih karena pelakunya ramai, bersenpi, dan korbannya dua saudagar karet yang dikenal luas di dua daerah bertetangga itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi di Tanah Luas, pelaku perampokan berjumlah lima orang. Satu di antaranya mengenakan sebo (kain penutup wajah) dan membawa senpi laras panjang.

Akibat kejadian itu, Rp 40 juta uang tunai dan sebuah mobil pikap milik korban dilarikan pelaku. Belum teridentifikasi jenis senjata apa yang mereka gunakan dan warga mana saja pelakunya. Yang jelas, sehabis beraksi di kawasan pedalaman itu, para pelaku terlihat lari ke arah Kecamatan Geureudong Pase.

Korban, sebagaimana dikutip seorang warga Geureudong Pase mengaku, komplotan perampok itu lebih dulu mengikat kaki dan tangan korban (Marzuki dan Murdani), sebelum menguras uangnya dari dalam mobil pikap yang mereka tumpangi berdua.

Marzuki dan Murdani awalnya berniat membeli getah (lateks) dari petani di Geureudong Pase. Namun, sesampainya di perbatasan Desa Bukit Makarti dan Desa Leubok Klit, mobil pikapnya dicegat kawanan pelaku yang mengendarai tiga sepeda motor (sepmor).

Keduanya dipaksa ke luar dari mobil dan ditodong dengan senpi laras panjang. Kawanan perampok itu meminta korban menyerahkan pikap dan uang tunai yang dibawa, di bawah todongan senjata.

Karena takut ditembak, akhirnya kedua saudagar getah itu merelakan uang yang totalnya Rp 40 juta beralih tangan. Belum jelas, berapa uang Marzuki, berapa pula uang Murdani di antara jumlah tersebut.

Meski sudah menguasai uang korban, kelompok penjahat itu masih meminta pula kunci mobil korban. Sebelum tancap gas, kedua korban diikat pelaku di bawah sebatang pohon pada lokasi kejadian.

Setelah semua uang bawaan tauke karet itu dirampas paksa di bawah todongan senpi, para pelaku melarikan diri dengan mobil hasil rampasan dan tiga sepmor milik mereka ke kawasan hutan di pedalaman Geureudong Pase.

Sekira pukul 14.20 WIB, beberapa petani yang melintas di daerah itu mendengar suara teriakan orang minta tolong. Rombongan petani itu pun menemukan kedua korban dan melepaskan ikatannya. Karena korban mengaku dirampok, warga setempat langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Tanah Luas, Aceh Utara.

Sekitar pukul 13.30 WIB, personel dari Polsek Tanah Luas mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian. Tak lama kemudian, pasukan dari Polres Aceh Utara yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Erlin Tang Jaya juga turun ke lokasi.

Anggota Koramil Tanah Luas ikut mengendus jejak pelaku di kawasan hutan Bukit Makarti, 45 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Komandan Kodim Aceh Utara Letkol CZI Wakhyono juga memberi perhatian serius atas pengustan kasus perampok bersenpi ini.

Hingga pukul 19.30 WIB tadi malam, kedua korban masih diperiksa petugas Mapolres Aceh Utara yang menangani kasus itu bersama beberapa personel dari polsek setempat. Polisi juga memburu pelaku yang diduga lari ke arah Geureudong Pase.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, menyatakan, begitu mendapat laporan adanya aksi perampokan yang pertama terjadi dalam tahun ini di kabupaten itu, pihaknya langsung bereaksi. Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Aceh Utara dengan senjata lengkap diturunkan ke lokasi untuk mengejar pelaku sekaligus memblokir daerah yang diperkirakan menjadi celah bagi mereka untuk lari menjauh.

“Kasus ini dalam proses penyelidikan. Bahkan sampai tadi malam tim kita masih bekerja di lapangan. Kita sudah koordinasi dengan Polres Lhokseumawe maupun Dandim 0103 Aceh Utara agar pelakunya segera bisa kita tangkap,” ujar Kapolres AKBP Farid BE.

Dalam perburuan itu, polisi menemukan bekas makanan pelaku ketika menunggu korban melintas. Pelaku sempat makan mi, minum soft drink, dan air mineral di situ. “Kita terus memburu pelakunya, ke mana pun mereka lari,” ujar Kapolres Aceh Utara. (c46/ib)

Berita Terkait :
Mata Ditutup, Tangan Diikat
Aksi Perampokan Bersenpi Selama 2 Bulan Terakhir

Empat Pria Dibekuk Usai Pesta Sabu

Diposting oleh foraceh


LHOKSUKON – Empat orang pemuda, yaitu Ai (32) asal Desa Rayeuk Jawa, Kecamatan Geureudong Pase, Ay (49) warga Desa Kaye Payang, Kecamatan Syamtalira Bayu, Mis (50) warga Desa Beunot, Kecamatan Syamtalira Bayu, dan Rud (32) asal Desa Peudari, Kecamatan Geureudong Pase, dibeureukah (ditangkap-red) polisi, usai melakukan pesta sabu di Desa Keude Paya Bakong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara sekitar pukul 04.00 wib dinihari, Selasa (11/1).

Keempatnya tertangkap tangan baru saja menikmati barang haram itu di sebuah rumah kosong di desa tersebut. Barang bukti yang diamankan yaitu bong sabu sebanyak dua buah, tiga buah handphone berbagai merk, dua dompet, sabu-sabu senilai Rp 400.000, korek api dua buah, dan pisau silet satu buah. Kini, mempertanggungjawabkan perbuatannya, keempat pria itu mendekam di sel Mapolres Aceh Utara. (masriadi sambo)


LHOKSEUMAWE – Id (37) yang dikenal wanita rambut perang asal Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, dijebloskan ke sel Mapolsek Banda Sakti. Diduga ia menggadaikan satu unit mobil jenis CRV pada orang lain. Padahal mobil tersebut direntalnya dari seorang pegawai Pemkab Aceh Utara dengan tempo tiga bulan.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Kukuh Santoso, melalui Kapolsek Banda Sakti Iptu Ibrahim Prades, Rabu (12/1), mengatakan sudah empat hari Id di sel. Dijelaskan, Oktober 2010 lalu, tersangka merental mobil pada seorang pegawai Pemkab Aceh Utara. Selama tiga bulan dengan sewa Rp 7 juta/bulan. Ternyata Id menggadaikan mobil itu pada,rang lain senilai Rp 60 juta. Merasa ditipu sipemilik mengadukan pada aparat Polisi. "Keberadaan mobil itu sampai sekarang masih belum diketahui,” kata Kapolsek Banda Sakti kepada Serambinews.com.(saiful bahri)

Atraksi Dabus

Diposting oleh foraceh


Penari mempertunjukkan atraksi dabus saat menyambut para wisatawan manca negara yang berkunjung ke kompleks makam Syiah Kuala, Banda Aceh, Senin (10/1). SERAMBI/M ANSHAR

Ribuan Mahasiswa PTGP Takengon Demo

Diposting oleh foraceh


TAKENGON –Seribuan lebih mahasiswa dari Perguruan Tinggi Gajah Putih (PTGP) Takengon, melancarkan aksi demo. Mereka menuntut Kadis pendidikan Aceh Tengah, Drs Nasaruddin,buat pernyataan maaf. Demo yang digelar di depan kantor DPK Aceh Tengah, Kamis (13/1) siang itu, menuntut Kadis Pendidikan yang telah mengeluarkan pernyataan menyudutkan pihak PTGP Takengon, pada saat menjadi Pembina upacara di SMAN 4 Takengon (20/12/2010) lalu, untuk membuat surat pernyataan minta maaf.

Pernyataan Drs Nasaruddin,MM itu yang menyarankan siswa lulusan Rumah Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau SMAN 4 Takengon, untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri yang lebih bergengsi seperti UI, ITB dan USU. Bila mampu kata Nasaruddin dalam pidatonya, siswa kelas III RSBI setelah lulus harus kuliah di fakultas pilihan tersebut, dan bukan di PTGP. Namun demikian, katanya, kualitas PTGP Takengon, tidak terlalu jelek dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, tetapi kalau bisa ke perguruan tinggi negeri. “Kepala dinas telah meremehkan kualitas PTGP Takengon, padahal lulusan dari universitas ini banyak yang telah berhasil," teriak seorang pendemo. (c35)

Editor: Ampuh Devayan

PELABUHAN KRUENG GEUKUH

Diposting oleh foraceh


Seorang anak buah kapal (ABK) turun dari sebuah kapal yang bersandar di Pelabuhan Krueng Geukuh, di Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (13/1). Direncakan ekspor dari pelabuhan itu dimulai kembali 20 Januari 2011 ini. SERAMBI/MASRIADI


Mahasiswa HMI Cabang Aceh Selatan melakukan aksi teaterkal praktek pedukunan di Bundaran Kede Aru Tapaktuan, Kamis (13/1). Praktek mistis itu dilakukan sebagai wujud kekecewaan mereka terhadap kekosongan dokter spesialis di RSUYA Tapaktuan. Para dokter ahli tersebut hengkang dari Aceh Selatan, karena insentifnya diturunkan oleh pemkab sebesar 50 persen lebih. SERAMBI/AZHARI

TAPAKTUAN - Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tapaktuan, Aceh Selatan, menggelar aksi teraterikal di Kantor Bupati, Gedung DPRK dan Bundaran Keude Aru Tapaktuan. Aksi itu sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan terhadap kekosongan dokter spesialis di RSUYA Tapaktuan, setelah semua dokter ahli itu hengkang dari rumah sakit itu karena insentifnya diturunkan hingga 50 persen lebih.

Para mahasiswa yang berjumlah enam orang sejak pagi berkumpul di Sekretariat HMI, sekitar pukul 10.00 WIB dengan menggunakan becak dan sepeda motor bergerak menuju Gedung DPRK di jalan Syech Abdurrauf.

Aksi praktek perdukunan itu yang dilancarkan mahasiswa itu mendapat perhatian masyarakat Tapaktuan. Sebab selain mengusung spanduk yang terbuat dari kertas karton yang bertuliskan, antara lain masyarakat Aceh Selatan kembali berobat ke dukun.

Di sepanjang jalan yang mendapat pengawalan ketat dari personel Polres Aceh selatan itu, para mahsiswa juga membawa perlengkapan perdukunan serta membakar kemenyan. Setelah melakukan aksi di gedung DPRK yang hanya disambut oleh sejumlah PNS. Mereka melanjutkan perjalanan ke Bundaran Keude Aru. Di persimpangan lampu itu mereka membentangkan alas dari koran dan kembali menggelar aksinya dengan memperaktekan pengobatan tradisonal menangani seorang pasien yang sedang sakit.

Praktek perdukunan itu sempat menyita perhatian masyaraka sekitar, terutama para pengguna jalan. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berhenti menyaksi drama yang dilakoni para mahasiswa itu. Selain menggelar aksi praktek perdukunan, dalam aksi itu mahasiswa juga membagi-bagi selebaran terkait tentang kekosongan dokter spesialis di RSUYA Tapaktuan dalam beberapa hari ini menyusul diturunkannya insentif para vdokter ahli itu hingga 50 persen lebih.

Setelah melakukan aksi di bundaran, para mahasiswa langsung menuju ke kantor bupati dan melakukan aksi yang sama. Kehadiran mereka disambut oleh Asisten Adminstrasi Setdakab, Drs Syamsulijar, Kabag Humas dan sejumlah staf.

Ketua HMI Cabang Tapaktuan, Aceh Selatan, M Taslim, kepada Serambi mengatakan, aksi yang dilancarkan oleh mahasiswa HMI itu merupakan bentuk kekecewaan masyarakat atas kekosongan dokter spesialis di RSUYA Tapaktuan menyusul diturunkannya insentif para vdokter ahli itu hingga 50 persen lebih. “Kami meminta Pemkab dan DPRK secepatnya menangani masalah itu, sehingga pelayanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah daerah itu bisa normal kembali,”katanya.(az)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.